Nasib Pendidikan Selama Pandemi Covid-19
Nama : Sofie Maritza Jutanto
Kelas : IP – 2B
NIM : 202010050311058
Jurusan : Ilmu Pemerintahan
Topik : Masalah Pendidikan (Di Indonesia)
Kunci : Pendidikan, Ekonomi, Pandemi Covid – 19
UAS Kepemimpinan Pemerintahan
Tema dan Judul :
Di sini saya mengambil tema berhubungan dengan kondisi Pandemi Covid – 19 di Indonesia, dengan judul :
“Nasib Pendidikan Selama Pandemi Covid-19”
Saat ini kondisi di Indonesia dapat terbilang sangat buruk akibat munculnya Virus Corona. Apalagi banyak masyarakat yang dulunya tidak percaya akan adanya virus ini atau dapat dikatakan sebagai konspirasi belaka, hal ini dianggap masyarakat sebagai bisnis para pejabat yang hanya ingin mengambil keuntungan.
Virus Corona yang menyebar dari Wuhan kini seakan-akan tak ada habisnya untuk menyerang penduduk penjuru dunia, hampir semua negara saat ini terserang virus corona. Beberapa vaksin telah dikerahkan guna sebagai pencegahan penyebaran COVID-19 ini. Ada juga beberapa Negara yang melakukan Lockdown total.
Berita kematian akibat virus corona terus-menerus terdengar di televisi maupun media koran, bahkan sesuai data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia tertinggi di Asia dan urutan ke-12 di dunia. Pemerintah juga tidak mungkin memberhentikan semua kegiatan para buruh, karyawan, maupun PNS, karena mereka membutuhkan pekerjaannya demi mencari sesuap nasi. Akibat adanya COVID-19 inipun membuat perekonomian di Indonesia menjadi hampir terpuruk, karena banyak juga buruh yang di – PHK dari perusahaannya. Segala cara dilakukan pemerintah seperti memberikan bantuan sosial kepada warga masyarakat yang kesulitan membeli bahan pangan.
Selain kesulitan di bidang ekonomi, adanya COVID-19 ini juga membawa pengaruh besar di bidang pendidikan. Pembelajaran yang semula tatap muka (luring), akibat pandemi COVID-19 tersebut berubah menjadi pembelajaran daring (online). Sejak bulan Maret 2020, seluruh sekolah pada 34 Provinsi di Indonesia ditutup, Sudah 1 tahun lebih belajar di rumah atau pembelajaran jarak jauh, tidak ada cara lain lagi selain daring (online) pada saat itu. Ketidaksiapan dialami siswa karena tidak semua siswa mampu menyediakan fasilitas belajar online. Saya sebagai mahasiswa merasakan sendiri bagaimana kesulitan pembelajaran online, apalagi terkait jaringan internet yang tak selamanya lancar, dan banyak juga daerah terpencil yang sangat susah mencari sinyal. Selain jaringan internet menjadi kendalanya, penerimaan materi pembelajaran pun sulit untuk dipahami, semua dosen ataupun guru berusaha mencari ide ataupun variasi bagaimana pembelajaran online yang diberikan kepada siswanya agar tidak membosankan dan seluruh siswanya dapat menerima materi dengan baik.
Banyak juga guru atau dosen yang sekadar memberikan tugas kepada para muridnya, yakni melalui forum aplikasi pesan grup daring seperti aplikasi whatsapp maupun aplikasi Google Classroom. Guru ataupun dosen membuat grup dengan para orang tua atau wali murid untuk update apa saja yang perlu dilakukan tiap harinya selama proses pembelajaran serta memberikan informasi penting.
Saat ini ramai digunakan aplikasi untuk mendukung pembelajaran dengan menggunakan zoom atau google meet yang paling populer, selain itu ada juga aplikasi google classroom. Hal ini dapat dilakukan secara saling hubungan atau secara interaktif hingga ratusan bahkan ribuan orang dalam sekali aktifitas. Masalahnya kini adalah tidak semua orang tua siswa atau wali murid kita memiliki kemampuan untuk memiliki perangkat laptop atau smartphone yang dapat mendukung untuk menginstall aplikasi zoom atau gmeet, dan hanya sebagian saja yang paham akan teknologi.
Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makariem mengatakan, bantuan atau subsidi kuota gratis untuk pembelajaran jarak jauh dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi serta tenaga pendidik pun dapat subsidi tersebut. Itupun tidak semua siswa mendapatkannya, dikarenakan kendala nomor seluler yang tidak bisa menerima subsidi kuota gratis dari pemerintah. Berdasarkan data yang tertulis dari Kemendikbud, tahun lalu subsidi kuota gratis diterima 35.725.387 warga pendidikan mulai dari mahasiswa hingga dosen. Dan hal seperti ini tidak memenuhi capaian target yang seharusnya yakni 59.500.000 penerima. Dengan adanya program subsidi kuota gratis banyak menimbulkan beragam pro dan kontra. Meskipun banyak juga peserta didik yang merasa terbantu, tetapi tak jarang juga peserta didik yang mengeluh karena belum pernah sama sekali menerima bantuan kuota gratis yang telah disediakan oleh pemerintah.
Saat ini ada beberapa sekolah yang telah dibuka, meskipun harus membagi waktu kedatangan siswa, agar tidak terjadi kerumunan di sekolah, dan juga protokol yang diterapkan begitu ketat. Selain itu jam pembelajaran secara tatap muka terjadi pengurangan, yang sebelumnya diterapkan fullday school, sekarang menjadi 5 jam saja. Hal itu diadakan guna mengurangi kontak fisik antara siswa satu dengan siswa yang lain di sekolah.
Pembelajaran jarak jauh atau secara online di masa pandemi Covid – 19 ini bagi Indonesia adalah bukan jalan keluarnya. Walaupun kita dapat mengklaim bahwa Indonesia sebagai pengakses urutan ke – 5 di seluruh dunia, tetapi terkadang penggunaan internet yang seharusnya digunakan untuk belajar dikalahkan oleh pengguna sebagai kepentingan game online, hiburan, maupun media sosial. Berkurangnya minat dalam membaca buku atau kita sebut sebagai budaya literasi juga menjadi dampak pembelajaran online. Karena sebagian siswa saat ini, ketika diberi soal oleh gurunya, siswa tersebut mencari jawaban tidak dengan mencari di buku, tetapi langsung mengakses jawaban yang ada di internet yang sangat mudah dijangkau, itulah sisi negatif dari pembelajaran jarak jauh. Hal ini tidak boleh dilangsungkan secara jangka panjang, karena di dunia pendidikan siswa bukan dituntut untuk mendapatkan nilai yang bagus saja, akan tetapi keterampilan serta kreativitas setiap individu sangatlah penting.
Kabar rencana akan diadakan pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan pada bulan Juli kini terancam batal, disebabkan melonjaknya kasus covid di Indonesia yang sangat drastis. Hal tersebut, akibat masyarakat tidak mengikuti peraturan yang diberikan pemerintah untuk tidak pergi mudik atau pulang kampung. Apalagi virus Corona saat ini mengeluarkan varian virus baru yakni “Delta” yang lebih berbahaya dan penularannya lebih cepat dibanding varian sebelumnya.
(Mengutip jurnal Wibowo Hadiwardoyo:2020) “Bahwa kunci dari penyehatan kembali kondisi ekonomi nasional adalah survival di tingkat individu dan entitas usaha. Oleh karena itu negara harus mengerahkan segenap upaya, termasuk dengan memberikan stimulus, agar rakyatnya tidak collaps semasa krisis, tetap produktif dan memiliki penghasilan memadai, serta bisnis dapat terus berjalan.”
Terkadang bantuan sosial yang diberikan dari Kementerian Sosial Ibu Risma salah sasaran, orang yang terbilang mampu, malah mendapatkan bantuan sosial, sedangkan orang yang benar – benar kesulitan mencari sesuap nasi, gagal mendapatkan bantuan sosial, hal sepele seperti ini membuat hilangnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap para pejabat yang telah di berikan sebuah amanah tidak dapat melaksanakan amanah dengan baik, dengan sejujur – jujurnya.
Solusi pemerintah saat ini adalah memberikan kebijakan untuk diadakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang berlangsung dari tanggal 3-20 Juli 2021 antar pulau Jawa dan Bali.
Adanya PPKM ini, diberlakukan pembatasan waktu kegiatan masyarakat maupun kegiatan para pedagang, yang jam 5 sore harus sudah tutup. Dan juga lampu jalan umum pada pukul 8 malam wajib dimatikan agar para masyarakat tidak berkegiatan atau tidak berkeluyuran ke luar rumah, hal ini dapat sebut sebagai lockdown total atau lockdown darurat. Hanya petugas DISHUB atau Polisi yang ada di jalanan, semua dijaga sangat ketat.
Rasa empati saat ini tertuju pada para pedagang kaki lima, mereka dapat mencari nafkah hanya dari berjualan, sedangkan saat ini masyarakat tidak boleh keluar rumah, jualan para pedagang kaki lima begitu sepi, tidak ada yang membeli, kalau bukan masyarakat siapa lagi?
Vaksinasi sekarang juga diwajibkan, karena setiap setelah vaksin akan mendapat sebuah sertifikat, dan sertifikat tersebut digunakan atau ditunjukkan saat kita akan melakukan perjalanan jauh atau perjalanan menuju ke luar kota. Setiap orang akan diperiksa akan kepemilikan sertifikat vaksin tersebut, apabila tidak memiliki sebuah sertifikat vaksin maka tidak boleh melakukan perjalanan ke luar kota, harus putar balik.
Vaksin tak hanya untuk lansia saja, saat ini telah diluncurkan vaksin untuk anak remaja dari usia 12 – 17 tahun, sehingga seluruh warga Negara Indonesia tidak memiliki alasan lagi untuk tidak mengikuti vaksin, terkecuali untuk balita, belum terdengar vaksin covid – 19 untuk seusia balita. Masalah tentang vaksin ini juga sangat banyak di perdebatkan, ada seseorang setelah divaksin meninggal dunia, hal ini belum mendapat penelitian lebih lanjut, atau seseorang tersebut memiliki penyakit dala m sebelumnya, karena vaksin ini tidak diperuntukkan oleh orang yang mengidap penyakit tertentu seperti penyakit darah tinggi, diabetes, dan lain – lain, saat melakukan vaksin tubuh harus dalam kondisi normal atau sehat.
Tingkat kematian di bulan Juni sampai Juli ini sangat meningkat drastis, terdengar di media televisi, ladang untuk pemakaman hampir penuh, mobil ambulance yang setiap hari bahkan setiap jam terdengar di perjalanan, yang membuat suasana saat ini begitu mencekam, pemerintah terus mencari solusi, agar situasi yang sangat sulit ini dapat teratasi dengan baik.
Tetapi di sisi lain, masa pandemi membawa dampak positif yakni memberikan sebuah kesempatan bagi negara Indonesia yang sebelumnya lingkungan sekitar kotor akibat polusi, tetapi sekarang lingkungan menjadi bersih akibat berkurangnya emisi gas buang, karena terbatasnya aktivitas masyarakat yang keluar rumah. Selain itu, dampak positif dari pembelajaran online adalah siswa sekarang dapat diawasi oleh orang tua secara langsung, karena pada dasarnya potensi setiap siswa tidak terbatas. Maka dari itu saat ini peran orang tua dalam menjaga serta mengawasi sangatlah penting. Harapan kita saat ini adalah ekonomi di Negara Indonesia kembali normal, para pekerja buruh, pegawai yang di PHK oleh perusahaannya dapat kembali bekerja untuk menafkahi keluarganya, dan virus covid -19 ini segera hilang dari muka bumi, agar masyarakat semua dapat keluar rumah dengan bebas tanpa di batasi, tanpa mengenakan masker, tanpa harus rapid test atau swab, serta wisata dapat dibuka seperti semula tanpa adanya rasa ketakutan tertular virus. Hal tersebut tak hanya harapan bagi warga Negara Indonesia saja, tetapi negara luar seperti India, Italia, Rusia, Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris. Hampir seluruh dunia merasakan begitu kejamnya dampak akibat adanya virus corona ini. Rasa bosan tiba – tiba muncul, dan berpikir sejenak, apakah pandemi covid – 19 ini terus ada, dan kapan berhentinya kasus seperti ini? Apabila kasus ini berjalan berkepanjangan, hal ini menyebabkan akibat yang fatal bagi generasi muda, karena hilangnya rasa semangat dan tindak kriminal pun tak bisa terkendali akibat rendahnya ekonomi. Kita semua berharap semoga pandemi Covid – 19 segera berlalu, sehingga dunia pendidikan segera berkembang kembali seperti semula dan pembelajaran secara tatap muka segera berlangsung dan dapat menghasilkan generasi – generasi yang pintar guna membanggakan bangsa Indonesia.
Komentar
Posting Komentar